-- -- ==
Layanan konsultasi gratis, tanya jawab seputar khat, kritik dan saran, silahkan sampaikan di HALAMAN INI. Insya Allah akan kami jawab dan kami tampikan di website ini.

Oleh-oleh dari Gaza

Berikut adalah oleh-oleh perjalanan Mauluddin Anwar, Produser Liputat6 SCTV yang juga salah seornag pengurus Lemka, dalam tugas meliput serangan Israel ke Jalur Gaza Palestina beberapa waktu yang lalu.


Catatan dari Jalur Gaza I:
Ahlan Wasahlan!
Keluar dari kantor imigrasi Palestina di Rafah, Gaza, saya dan Yon Helfi seperti ayam kehilangan induk. Guide kami yang lebih mahir berbahasa Arab pun, baru kali ini masuk Jalur Gaza. Tadinya kami kira akan banyak kendaraan pengangkut ke kota-kota lain, seperti Gaza city. Nyatanya hanya ada dua kendaraan ambulans, dan satu sedan Mercy tahun 70-an. Berpasang-pasang mata, beberapa di antaranya bertampang menyelidik, memandang kami. Dua orang berpostur tinggi besar mendekat. Berbekal pengalaman “kurang enak” di terminal bis, pelabuhan dan bandara di Tanah Air, insting saya refleks mengingatkan: hati-hati!
Setelah mengetahui tujuan kami, Gaza city, keduanya saling berbisik, serius berembuk. Ah, trik murahan ala preman terminal di Indonesia, pikir saya. Mereka mendekati sopir ambulan, dan sepertinya meminta untuk mengangkut kami ke kota Gaza. Tapi sang sopir menolak, mungkin karena ada korban agresi Israel yang akan tiba dan harus segera diangkut ke Mesir. Gagal merayu sopir ambulan, keduanya mengajak kami masuk ke sedan Mercy putih. Rupanya ini kendaraan milik salah satu dari mereka. “Tidak menunggu taksi saja?” Tanya saya. “Masuklah, tidak ada taksi di sini,” kata lelaki pemegang kemudi.
“Saya Abu Mus’ab,” katanya sambil memperlihatkan kartu pengenal: polisi intel Hamas! Senyumnya menohok saya yang masih bertampang curiga. “Kita semua saudara,” pernyataannya makin membuat saya malu, astagfirullah. Abu Mus’ab tak tersinggung, dia malah minta maaf karena tak bisa mengantar kami ke kota Gaza (berjarak sekitar 30 kilometer), lantaran harus tetap bertugas di perbatasan Gaza-Mesir bersama teman di sebelahnya, Abu Hamzah. Dia hanya bisa mengantar kami ke pusat kota Rafah. “Dari sana Anda bisa menyewa taksi atau naik mobil umum,” katanya.
Di perjalanan, kami menyaksikan gedung-gedung perkantoran dan rumah yang luluh lantak. Segan meminta Abu Mus’ab yang “dikejar tugas” untuk menghentikan mobilnya, saya meminta Yon mengambil gambar dari mobil saja. Abu Mus’ab malah menghentikan mobilnya, dan dengan senang hati mempersilakan Yon mengambil gambar sampai puas. Dan ini berulang di sejumlah tempat. Walhasil, Abu Mus’ab sudah menemani kami lebih dua jam. “Apalagi yang bisa kami bantu?” Tanya Abu Mus’ab setiba di kota Rafah. Mendengar berbagai rencana saya, tanpa pikir panjang ia meminta Abu Hamzah membantu membelikan kartu dan voucher telepon lokal. Ia juga mengontak kawan-kawannya di kota Gaza dan Jabaliya, yang akan membantu kami, juga pemilik taksi sewaan jika kami butuhkan. Inikah “keramahan Hamas” yang oleh Israel dan Amerika Serikat justru dicap sebagai teroris?
Kehadiran saya di Jalur Gaza telah menguak sisi lain Hamas, yang selama ini hanya dipahami sebagai kelompok milisi. Baliho-baliho besar di sepanjang jalan memampangkan identitas Hamas yang lebih utuh: Hamas: Tarbiyah, Bina, Jihad. Jihad hanya urutan ketiga dari prioritas Hamas. Yang pertama adalah pendidikan (tarbiyah), dan kedua pembangunan (bina). Sejak Hamas menguasai jalur Gaza, 2 tahun lalu, sekolah-sekolah dan masjid dibangun dan dimodernisasi. Pembangunan gedung-gedung, terutama untuk kepentingan sosial, juga marak. Itulah yang membuat sebagian besar warga Palestina (di Jalur Gaza dan Tepi Barat), akhirnya lebih kepincut Hamas pada pemilu 2006, dan meninggalkan Fatah yang mulai dirongrong isu korupsi para petingginya.
Tapi kenapa Hamas sangat dibenci Israel? “Kesalahan kami cuma satu, tidak mengakui Israel selama kami dijajah,” kata Abu Mus’ab. Di pool taksi kota Rafah, ia memeluk kami, sambil berpesan untuk tidak segan-segan mengontaknya jika butuh bantuan, jam berapapun. “Nahnu ikhwah (kita semua saudara),” lagi-lagi itu diucapkannya.
Pernyataan Abu Mus’ab bukan basa-basi. Selama kami berada di Jalur Gaza, citra ramah dan saling bantu memancar dari warganya, bahkan dari mereka yang kehilangan harta benda atau orang-orang terkasih akibat agresi Israel. Lebih lagi ketika mereka mengetahui identitas kami, shahafi Indonisi (wartawan Indonesia), semua meminta mampir untuk sekedar minum teh, atau setidaknya mengucap ahlan. Anak-anak dan remaja mengerubung. Semua ingin menjelaskan banyak hal, sehingga kerap membuat kami “repot”.
Saya teringat beberapa hari lalu, ketika ingin menyaksikan dari dekat bom-bom Israel dijatuhkan di perbatasan Gaza-Mesir. Setelah lolos mengecoh beberapa barikade tentara Mesir melalui “jalur tikus”, kami berhasil naik ke atap lantai empat gedung sekolah yang paling dekat dengan perbatasan Gaza. Awalnya warga sekitar tutup mulut, karena takut pada intel dan tentara Mesir yang berkeliaran. Tapi berbekal “diplomasi rokok” kretek Indonesia, mereka mulai terbuka, dan dengan senang hati menerima kami: ahlan! Salah seorang dari mereka bahkan ngotot mengajak makan di rumahnya.
Saya dengan sangat halus menolak ajakannya, beralasan “kami harus segera mengirim gambar eksklusif bom ke hotel”. Saya tak ingin peristiwa di Lebanon Selatan, Agustus 2006, terulang. Jamal Abu Hadid, sopir yang selalu menemani saya dan kameramen Andi Patra meliput Agresi Israel, suatu siang mengajak mampir makan di rumah saudaranya yang hancur dibom. Kami menolak karena harus meliput di tempat lain. Penolakan itu membuatnya sangat tersinggung. “Kamu pikir saudara saya akan meminta bayaran jika kamu makan di rumahnya?”
Itulah model pengejawantahan dari filosofi kata ahlan, atau lengkapnya ahlan wasahlan yang di Indonesia diartikan secara sederhana sebagai “selamat datang”. Padahal maknanya lebih dari sekedar ucapan basa-basi. Ahlan berarti keluarga, sahlan berarti mudah. Ahlan wasalhan: kamu sudah menjadi keluargaku, maka mudahlah segala urusanmu. Inilah model ikram ad-dhaif (menghormati tamu) ala Timur Tengah. Seorang tamu tidak hanya dijamu, bahkan harus dilindungi dari musuhnya sekali pun. Saya teringat kisah sejumlah wartawan asing yang malah diculik, di Jalur Gaza dan Irak. Ah, sepertinya itu sudah bercampur berkelindan dengan urusan politik.
Satu pelajaran lain yang berharga dari Gaza adalah ketegaran warganya yang enggan berlama-lama larut dalam duka. Imad Abu Faris, sopir yang menemani kami selama meliput di Gaza, tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang hancur dibom, dan meminta Yon mengambil gambarnya. Kami menolak, karena sudah terlalu banyak gambar serupa yang diabadikan. “Ini istimewa,” katanya tersenyum, “ini rumah saya.” Masya Allah, dia masih bisa tersenyum dan rela mengantar kami kemana-mana, padahal rumahnya hancur, dan ada beberapa anggota keluarganya yang meninggal.
Imad adalah tipikal semua warga Gaza. Kematian tak perlu ditangisi, dan kehidupan harus berjalan terus meski badai menghadang. Umm Muhammad, seorang ibu yang kebetulan melaksanakan ibadah umroh ke Arab Saudi sebelum agresi Israel, ngotot kembali ke Gaza ketika kawasan ini sedang dibombardir. “Kenapa harus takut. Kematian sudah diatur, dan kita hanya menunggu giliran,” katanya.
Saat meninggalkan Jalur Gaza, kami terjebak di tengah ratusan orang yang hendak masuk ke Mesir di pintu perbatasan. Mereka, termasuk kami, tak diijinkan, tanpa alasan jelas. Lama menunggu, teringat Abu Mus’ab. Beberapa saat setelah dihubungi, ia muncul dengan Mercy putihnya. “Ahlan,” katanya sambil memeluk. Kami masuk mobilnya dan menyibak kerumunan hingga ke mulut gerbang. Sang penjaga tetap tak mengijinkan. Abu Mus’ab membuka kaca mobilnya. Petugas berpakaian loreng itu meminta maaf dan membiarkan kami melewati gerbang perbatasan. Saat berpisah, Abu Mus’ab lagi-lagi berucap, “Nahnu ikhwah.”
Keluar dari gerbang perbatasan Mesir, Yon lemas setelah memeriksa tas perlengkapannya. “Lampu kamera hilang!” Ya Allah, padahal kami akan memakainya untuk siaran langsung malam hari. Entah dimana, tapi terbetik juga pikiran buruk, jangan-jangan ketika kami dikerubuti anak-anak dan remaja di sejumlah tempat, ada yang iseng mengambilnya. Tiba-tiba handphone berdering, dari Abu Mus’ab. “Kenapa Anda tinggalkan lampu kamera di jok mobil?” Ia menjelaskan sudah menitipkan benda tersebut kepada wartawan Lebanon yang baru saja meninggalkan Gaza.
Rupanya persoalan belum selesai. Modem USB untuk sambungan live via internet pun, ternyata tertinggal di hotel di kota Gaza. Ya ampun! Tadi pagi kami memang tergesa meninggalkan hotel, karena memburu nara sumber yang tiba-tiba bersedia diwawancarai. Saya langsung mengontak resepsionis hotel. “Ya akhi (saudaraku), kami sudah menitipkan barang Anda ke wartawan lain yang akan ke Mesir. Silakan menghubunginya.” Alhamdulillah, semua dimudahkan untuk kami. Ahlan wasahlan, nahnu ikhwah. Syukron (terima kasih).
Catatan dari Jalur Gaza II:
Terowongan Rafah
Tiga hari pasca agresi, pusat kota Rafah, Jalur Gaza kembali menggeliat. Suguhan kare ayam dan daging sapi di sebuah rumah makan membuat perut saya tak lagi “berontak”. Tidak seperti aroma umumnya bumbu masak di Timur Tengah yang “menyengat”, racikan bumbu kare Rafah klop banget dengan selera lidah saya yang sangat Sunda. Jam makan siang, meja-meja dipenuhi warga Rafah. Alahmak, mereka juga dengan lahap menyesap soft drink Amerika, Coca-cola dan Pepsi! Benak saya langsung melayang ke aksi-aksi sweeping rumah makan waralaba Amerika oleh sejumlah demonstran di Tanah Air kala berdemo menentang agresi Israel. Kemarin, seorang pendakwah muda di Mesir juga dengan menggebu-gebu meyakinkan saya yang menyeruput Pepsi di siang bolong, bahwa Pepsi adalah akronim dari pay every penny to save Israel.
Jika sang pendakwah ini benar, maka sesungguhnya warga Rafah di depan saya tanpa sadar tengah bunuh diri, karena dari setiap kaleng Pepsi yang ia tenggak, ia ikut membiayai pembuatan bom Israel yang mungkin saja suatu saat akan menghajar rumahnya. “Kif dza hasol (kok, bisa-bisanya begini)?” Abu Hamzah, warga Rafah yang menemani makan, tersipu mendengar pertanyaan saya. “Tak ada yang salah dengan minuman itu. Yang keliru adalah kebijakan pemerintah Amerika,” jawaban Abu Hamzah membuat saya tertawa. “Saya akan sampaikan jawaban Anda pada para demonstran di Indonesia yang men-sweeping rumah makan Amerika.” Abu Hamzah manggut-manggut dengan mimik serius dan jempol tangan kanan teracung tanda setuju.
“Suf (lihat), tahukah Anda darimana daging yang kita makan?” Tanya Abu Hamzah. “Dari Amerika juga?” saya langsung menyambar. “Bukan, tapi dari Mesir. Sebagian besar daging kambing dan sapi yang dimakan warga Rafah dibawa kesini melalui terowongan. Bukan hanya daging, melainkan hampir semua barang kebutuhan pokok, hingga bensin dan gas, dipasok melalui terowongan.” Mulut saya menganga. Tadi sepanjang jalan di Rafah, saya memang menyaksikan toko-toko dengan beragam dagangannya, sebagian berstempel made in Egypt. Tapi saya tak menyangka barang-barang itu, seperti kulkas, tv, radio, dipasok melalui terowongan. Malah, menurut Abu Hamzah, daging yang diselundupkan masih berbentuk kambing dan sapi hidup, lalu disembelih di Rafah.
Memang hampir dua tahun warga Jalur Gaza diblokade Israel dari dunia luar. Tujuh pintu keluar melalui perbatasan Israel ditutup. Gerbang Rafah Mesir juga hanya sesekali dibuka, itu pun untuk kebutuhan mendesak saja, seperti warga yang sakit dan tak bisa ditangani rumah sakit di Gaza. Sehingga, praktis, warga Jalur Gaza terisolir sejak pemerintahan Hamas menguasai wilayah ini. Padahal, kehidupan warga dengan segala kebutuhannya mesti berjalan terus. Karena itulah, menurut Abu Hamzah, satu-satunya cara adalah dengan membuat terowongan-terowongan rahasia di perbatasan Rafah-Mesir, yang membentang 11 kilometer, kira-kira sejauh terminal Kampung Rambutan hingga Mampang Prapatan, Jakarta.
Saat agresi 22 hari, Israel membombardir rumah-rumah yang diduga memiliki terowongan rahasia. Pasca agresi, warga Rafah seperti tak jera, kembali mengais-ais terowongan yang ambruk. Saya tidak sempat mendatangi salah satunya. Namun tabloid terbitan Hamas, Ar-Risalah, edisi 25 Desember 2008 – atau 2 hari sebelum agresi Israel, mengulas satu halaman penuh soal bisnis terowongan maut ini. Terowongan maut? Ya, karena untuk menggalinya, dibutuhkan keberanian melawan ancaman kontur tanah berpasir yang rawan ambruk, dan gas beracun yang bisa saja tiba-tiba muncul. Tapi karena menyangkut hajat hidup 1,4 juta warga Jalur Gaza, penggalian terowongan pun menjadi lahan bisnis menggiurkan sebagian warga Rafah yang berani menantang maut.
Menurut Ar-Risalah, rata-rata terowongan memiliki panjang 500 hingga 1.000 meter, membutuhkan waktu penggalian antara 4 hingga 6 bulan. Melibatkan 6-8 pekerja, dikepalai seorang pimpinan proyek. Setiap hari, bisa tergali antara 6 hingga 8 meter, dengan kedalaman 5 meter lebih dari permukaan tanah. Mau tahu berapa honor sang pekerja? Ini yang membuat ngiler. Sang pimpinan proyek bisa memperoleh 300 hingga 500 dolar perhari , sedangkan para pembantunya mendapatkan antara 30-50 dolar saja. Tugas sang pimpro memang berat: Selain menyediakan alat penggalian, juga harus matang menentukan arah penggalian dan menghindari tanah yang rawan runtuh. “Sudah banyak kawan kami yang terkubur saat menggali terowongan. Tapi kami akan jalan terus, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata seorang pimpro kepada Ar-Risalah.
Entah berapa puluh atau ratus terowongan di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir. Tidak ada yang tahu persis jumlahnya. “Kalau Anda hitung berapa barang-barang yang mengalir ke Gaza melalui terowongan itu, Anda bisa perkirakan jumlahnya,” kata Abu Hamzah. Saya tak bisa menebak-nebak. Yang saya lihat di sepanjang Jalur Gaza, hanya perkebunan buah dan palawijanya yang subur. Artinya, mungkin warga Gaza hanya bisa berswasembada untuk kebutuhan sayuran dan buah-buahan. Sedangkan barang-barang yang dijajakan di toko, mulai alat elektronik, alat sekolah, hingga kebutuhan rumah tangga, tak satu pun saya melihat pabriknya di Gaza. Tentu ada juga barang-barang yang diimport ke Gaza secara resmi melalui gerbang perbatasan. Tapi menurut Abu Hamzah, prosesnya sulit dan berliku, sehingga terowongan menjadi jalan pintas.
Selama 22 hari agresi, Israel membombardir rumah-rumah di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir, yang diduga memiliki terowongan. Israel menuding dari terowongan itulah Hamas mendapat pasokan senjata dari dunia luar, khususnya – menurut Israel -- dari Iran dan Suriah. Benarkah? “Siapa yang bisa menjamin tidak ada pasokan senjata melalui terowongan? Tapi terowongan bagi warga Rafah dan Gaza lebih penting dari itu. Terowongan adalah urat nadi hidup kami. Selama Israel memblokade Jalur Gaza dari dunia luar, bisnis terowongan akan kembali menjamur. Buka dulu blokade, lama-lama terowongan itu akan menjadi sejarah yang dilupakan warga Rafah.” Saya manggut-manggut mendengar jawaban Abu Hamzah.
Laporan dari Jalur Gaza III:
Warga Palestina Butuh Apa?
Baru saja dua pesawat tempur Israel membombardir kawasan perbatasan Rafah, Gaza. Imad Abdullah, seorang warga Mesir yang hanya berjarak 400-an meter dari perbatasan Gaza, membisiki saya. “Lihatlah, kami hanya kecipratan suara bising bom, yang sesekali mungkin saja akan menerjang polisi dan warga Mesir. Sementara saudara-saudara kami di Gaza, mendapatkan semuanya.” Imad menunjuk ratusan truk besar pengangkut bantuan dari berbagai negara yang mengantre di perbatasan Rafah, menunggu giliran masuk Gaza. “Semua mata dunia mengarah ke Gaza, sedangkan kami tidak mendapat apa-apa,” kata Imad lagi. Dari atap gedung sekolah di perbatasan Mesir saya memang bisa menyaksikan, kondisi bangunan-bangunan di Rafah, Gaza, jauh lebih mentereng ketimbang di Rafah, Mesir. “Mungkin wilayahmu harus dibombardir dulu,” candaan saya tak membuat Imad tertawa.
Lebih sepekan kemudian, saya dan kameramen Yon Helfi mendapat ijin masuk Gaza. Di kota Rafah, kami diajak keliling seorang polisi intel Hamas untuk menyaksikan kehancuran dampak pemboman. Seluruh bangunan milik pemerintahan Hamas luluh lantak, juga beberapa masjid, termasuk masjid terbesar di Rafah, Al-Abror. Banyak juga rumah warga yang dituding Israel memiliki terowongan rahasia, rata tanah. Namun sepanjang perjalanan dari Rafah ke Gaza City yang berjarak sekitar 30 kilometer, berkali-kali saya dan Yon gantian bertanya, “Mana bekas perangnya?” Warga beraktivitas seperti biasa, tak ada kepedihan, seperti tak pernah ada agresi yang merenggut lebih 1.300 nyawa.
Di Khan Yunis, memang ada beberapa bangunan dan lahan pertanian yang porak poranda. Tapi sebagian besar masih ajeg. “Boleh jadi karena saya hanya melintas, tak masuk ke pedalamannya,” saya mencoba meyakinkan diri. Di kiri-kanan jalan juga terbentang berhektar-hektar lahan pertanian nan hijau, dengan beragam palawija dan buah-buahan. Benar-benar di luar dugaan saya, berbeda sekali dengan kawasan Arish, Sinai, Mesir, yang berhampar-hampar gurun tandus belaka. Padahal dua kawasan ini bertetangga. Ratusan orang sedang antre gas ukuran 12 kilogram di sebuah agen elpiji. Saya bisiki, Yon tertawa, “Di Tanah Air tak ada perang pun banyak yang antre gas.”
Memasuki Gaza City, waktu menjelang magrib. Hiruk pikuk kota seperti di Jakarta saat jam pulang kerja. ”Bukankah perang baru tiga hari usai?” Bangunan-bangunan di pusat pemerintahan Jalur Gaza ini tertata rapi. Kantor-kantor pemerintahan memang hancur lebur, mulai kantor polisi, kementrian, hingga gedung parlemen. Juga rumah-rumah milik mereka yang dituding Israel sebagai tokoh, pejuang, atau simpatisan Hamas. “Israel memang bernafsu melumpuhkan Hamas,” kata Syekh Fathi, warga Gaza simpatisan Hamas. Bangunan lainnya tetap berdiri kokoh. Rumah warga Gaza berbentuk persegi tanpa atap genting, seperti umumnya rumah di wilayah Timur Tengah. Tidak banyak yang megah seperti di Pondok Indah atau Kelapa Gading, memang, tapi tidak ada yang sekumuh rumah di pinggiran kali Ciliwung. Sebagian warga mendiami rumah susun, terutama mereka yang selama ini mendiami kamp-kamp pengungsian, korban agresi Israel yang – saya tak tahu -- sudah berapa kali menggempur jalur Gaza, sejak pendirian Israel 60 tahun lalu.
Esok paginya saya menyambangi kawasan Jabaliya, khususnya di kawasan yang berdekatan dengan Israel. Mata saya terbelalak. Sejauh memandang, kehancuran nampak di segala arah. Rumah-rumah yang baru dibangun, dan sebagian besar bertingkat dua atau lebih, tinggal puing-puing. Persis, seperti di kawasan Khiyam dan Bint Jbeil, Lebanon Selatan, pasca 34 hari konflik Hizbullah-Israel dua setengah tahun lalu. Jabaliya terletak paling ujung utara Jalur Gaza, yang sebelah utara dan timurnya diapit wilayah Israel, dan bagian baratnya berbatasan dengan laut Mediterania. Menurut Syekh Fathi, Jabaliya menjadi front terdepan perlawanan Hamas, dan di sini dua tentara Israel tewas. Israel memusnahkan semua rumah yang mungkin mereka anggap sebagai tempat persembunyian para sniper Hamas. Di sinilah petinggi Hamas, Nizar Abdul Kader Mohammed Rayyan, dibom bersama empat isteri dan sebelas anaknya. Ladang-ladang pertanian yang siap panen juga dilindas tank-tank Merkava yang melintas. Mungkin, Israel menganggap lahan perkebunan ini menjadi tempat peluncuran roket-roket Hamas yang mengarah ke Israel selatan.
Jaringan listrik hancur, warga juga kekurangan air bersih karena pusat perusahaan air minumnya dirudal. Mereka mengutuk Israel, tapi tidak meratap sedikitpun pada warga asing yang datang, termasuk wartawan. Lagi-lagi, persis warga Lebanon selatan. “Apa yang Anda butuhkan?” Saya tanya Abu Muhammad, warga Jabaliya yang tengah mengais-ais pakaian dari puing-puing rumahnya. “Kami muak pada Israel. Hentikan perang, beri kami kemerdekaan seperti warga Israel!”
Bantuan dari berbagai pelosok dunia, termasuk Indonesia, terus mengalir ke Jalur Gaza. Imad warga Rafah Mesir benar, akibat konflik, Jalur Gaza kerap menjadi pusat perhatian dunia. Proyek-proyek pembangunan menjamur berstempel lembaga resmi internasional maupun LSM. Di Gaza City saja misalnya, terdapat 36 sekolah yang dibangun United Nation for Relief and Works Agency (UNRWA), belum lagi di kota-kota lain. Ratusan Masytal, atau bangunan-bangunan bertutup plastik tempat pembibitan tanaman yang menghampar sepanjang perbatasan Rafah hingga Jabaliya, juga dibangun atas bantuan lembaga-lembaga asing. Tentu saja perumahan warga korban agresi dan pendudukan, dibangun dari donor asing, di samping bantuan dari pemerintahan Hamas.
Tapi bukan semua itu yang dibutuhkan warga Jalur Gaza seperti Abu Muhammad. “Sebelum ada kedamaian, sebelum kami merdeka, semua bantuan itu percuma. Rumah kami bisa hancur lagi, dibangun lagi, hancur lagi, selama masih ada agresi dan pendudukan oleh Israel.” Abu Muhammad meyakinkan saya, kalau Palestina sudah merdeka, tidak ada lagi blokade dan isolasi dari dunia luar, bangsanya pasti bisa mandiri, dan boleh jadi akan lebih hebat dari Israel dan negara-negara Arab umumnya. “Nahnu sya’b jabbarin (kami bangsa yang tangguh),” kata Abu Muhammad.
Ia berterimakasih atas simpati dan bantuan bangsa Indonesia selama agresi Israel berlangsung. Tapi lagi-lagi Abu Muhammad menegaskan, simpati dan bantuan tidak ada artinya selama Palestina tidak merdeka, selama lembaga seperti PBB “takluk” pada Israel, selama pemimpin negara Arab kerap berbeda pendapat soal penyelesaian konflik, selama isu Palestina hanya jadi “komoditas” kampanye belaka. “Warga Palestina hanya butuh merdeka!”
Mauluddin Anwar
mauluddina@yahoo.com







Tutorial dan foto kaligrafi GRATIS. Anda akan mendapatkan kiriman email berisi tutorial dan foto kaligrafi setiap kami posting artikel baru di blog ini. Caranya : masukan email anda di kotak ini, lalu klik Subscribe. Bukalah email anda dan temukan link yang harus anda link untuk verifikasi

0 Response to "Oleh-oleh dari Gaza"

Poskan Komentar